Jumat, 10 April 2015

Books Review: Heart Quay

Judul: Heart Quay
Penerbit: Gramedia
Penulis: Putu Felisia
Twitter Account: @putufelisia



Setelah karyanya Bernard Batubara gue mau maparin karyanya Putu Felisia.

Zoya Rafika, gadis yang dari masa kecilnya sudah menderita akibat orang tua dan kakak kandungnya.
Ketika duduk di SMA Zoya bersahabat dengan Tiara dan Santi, persahabatan mereka begitu dekat.
Di satu sisi Zoya dekat dengan seorang seniornya, Elang Angkasa. Hubungan mereka absurd, tidak punya kejelasan. Mereka tidak pernah menyatakan saling berpacaran, tetapi saling menyukai dan mengikat perjanjian untuk bersama namun jika salah satu memutuskan untuk pergi maka tidak ada yang boleh melarangnya. Pada akhirnya Zoya meninggalkan Elang atas dasar permintaan dan ancaman keluarga Elang. Elang yang merasa tidak terima sangat terpukul dan terus menerus mengingat Zoya bahkan di dalam mimpinya. Ketika jarak semakin jauh dan waktu terus berlalu, Elang memutuskan untuk menikahi Tiara, sahabat Zoya. Mereka bertemu setelah Zoya dan Elang berpisah. Elang mendekati Tiara karena Tiara membaca buku Wuthering Heights dan memandangnya dengan pandangan yang begitu aneh, seolah-olah ada perasaan rindu yang menyiksa di raut wajah Elang dan mereka menjalin hubungan. Elang menyentuh Tiara dengan kesedihan, tapi Tiara menerimanya. Zoya memutuskan berangkat ke Singapore bersama Santi untuk menghadiri pernikahan Elang dan Tiara. Namun, pada saat perjalanan ke Singapore Zoya bertemu Mr. Kenneth Yang, lelaki dengan sikap dingin, jutek, yang hanya peduli dengan gadget dan seakan tidak perduli keadaan sekitarnya.
Setibanya di Singapore Zoya bertemu keluarga besar Elang, Zoya kembali mendapatkan caci maki. Pertemuan Zoya dengan Elang dan keluarganya membuat luka baru di hati Zoya.  Ketika Zoya memutuskan meninggalkan pertemuan tersebut Zoya kembali bertemu dengan Kenneth, yang baru saja melarikan diri dari kencan buta yang di atur oleh temannya. Mereka kian dekat di pertemuan tersebut, dan ketika Kenneth mengantar Zoya pulang Zoya jatuh pingsan di hadapan Tiara, Elang, dan Santi. Kenneth memutuskan untuk merawat Zoya dan membawa Zoya ke rumahnya.
Setelah sembuh Zoya banyak menghabiskan waktu bersama Kenneth, pada akhirnya Elang tau apa alasan Zoya meninggalkannya. Elang frustasi dan melarikan diri padahal pernikahannya hanya tinggal beberapa hari saja. Ketika semua kebenaran telah terungkap tetap saja Zoya yang dianggap salah atas semua masalah ini. Pada akhirnya Tiara memutuskan persahabatan mereka dan menikah dengan Elang. Semenjak hari di mana kebenaran terungkap dan Zoya kembali ke Indonesia dia tidak pernah bertemu dan mendengar kabar dari Kenneth lagi, hingga ia menghadiri sebuah pesta bersama salah satu orang tua murid di tempat dia mengajar. Kenneth datang ke Indonesia untuk melamar Zoya.


Novel ini sebenarnya udah gue baca sekitar setahun lalu. Miris juga sih soalnya yang beliin orang yang berhasil buat air mata gue tumpah selama bertahun-tahun. Dannnnn novel ini juga selalu berhasil ngebuat air mata gue netes! Tapi cerita dalam novel ini semacam terlalu cepat, terlalu terburu-buru, padahal kalau ceritanya slow pasti jatuhnya akan wow banget.
Bagi gue sendiri novel ini banyak yang di luar akal sehat gue, Zoya sendiri baru ketemu Kenneth di Pesawat, masa iya pertemuan kedua udah berani nyandar di bahu Kenneth? Juga ketika Zoya pingsan loh kok bisa sahabatnya ngasih kepercayaan gitu aja ke Kenneth untuk membawa dan merawat Zoya? Padahal mereka baru bertemu dan kenal dengan Kenneth pada saat itu juga. Tapi banyak kejadian yang ngebuat gue macam kaya nyess banget di hati. Seperti Zoya dan Elang yang sudah lama ga ketemu tp pas ketemu ternyata Elang udah mau nikah sama sahabat Zoya akward.
Zoya ketemu orang tua Elang yang membenci dia setengah mati. Argh gila bgt!
Hasilnya menurut gue happy ending sih tapi gue ga suka bagian pas Elang melarikan diri. Di situ kan udah kebukti yang salah dari hubungan mereka tuh orang tuanya Elang sendiri, tapi kok semuanya masih aja nyalahin Zoya? Bagian situ bikin gue ngerasa kayanya dunia kejam banget deh.
Rasanya gue pengen ngasih penghargaan ke Tiara dan Elang itu, mereka bener-bener mikirin diri mereka sendiri tanpa pernah sedikitpun mikirin penderitaan Zoya untuk mereka.
Karakternya sih gue suka. Kenneth Yang. Dari cowok jutek yang lebih akrab sama gadget daripada sama manusia tapi berubah jadi romantisssss.
Zoya sendiri menurut gue miris banget. Tipikal cewek miskin yang merasa paling melarat sedunia tapi sok tegar. Entah kenapa, gue kasihan banget dengan tipe cewek kayak gini.
Interaksi Kenneth-Zoya lumayan sih, meski gue ngerasa terlalu cepat. Untuk ukuran orang yang pernah ditinggal mati pacarnya dan sakit hati, Kenneth terlalu cepat untuk membuka hati. Dan untuk Zoya yang baru saja di khianati sahabat dan mantannya terlalu cepat untuk percaya sama Kenneth Yang ini. Coba halamannya ditambah, terus interaksi Kenneth-Zoya juga ditambah, mungkin chemistry mereka akan lebih tereksplor.
Tapi, gue suka adegan mereka ciuman di pinggir jalan sambil nunggu lampu hijau menyala. Dipikiran gue romantis banget. 

Sekarang, tokoh pendamping alias biang kerok masalah. Elang dan Tiara. The most heartless jerk couple in the world. Tiara tipe spoiled little brat yang rela lakuin apa aja untuk menuhin egonya. Elang juga sebenarnya cowok cemen yang egonya terlalu tinggi dan enggak bisa terima egonya dilukai. Cocok deh ini dua orang.
Pada akhirnya, mereka harus memilih. Cinta dan persahabatan. Dan si spoiled little brat macam Tiara milih mengakhiri persahabatannya dengan Zoya demi Elang.
Tapi overall gue suka sama novel ini.

Buat mba Putu Felisia terima kasih atas karyanya :)
Dan, ada beberapa quote dari novel ini yang gue suka.

"Kesalahan dia adalah menjadi gadis yang tidak sesuai dengan keluargamu. Tapi kesalahanmu adalah sama sekali tidak memiliki keberanian untuk memperjuangkannya, atau mempertahankannya disisimu. Yang kaulakukan hanya membiarkannya pergi."

"Hati yang hampa. Kenangan yang pudar. Hanya itu yang aku punya. Selain satu harapan, sebuah cinta yang utuh"

"Jika kita memang ditakdirkan bersama, untuk apa saling berdusta?
Ketika takdir tak kunjung datang, mengapa harus terus saling memikirkan?"

"Apakah cinta memerlukan alasan?"

"Cinta memang hanyalah perasaan. Apakah perasaan dapat menerjang begitu banyak halangan?"

"Kita berdua hanyalah dua orang kesepian yang kebetulan bersama"

"Jika takdir tidak menyapa, mengapa kita harus saling memikirkan?"

"Dalam hatiku mungkin hanya ada dirimu. Di dalam hatimu tak ada aku, mengapa harus terus bersama?"

"Hari ini berjanji melupakanmu, esok hari telah mengingatmu kembali.
Memikirkanmu hingga ke dalam mimpi, terus bertanya kapan perasaan ini akan berlalu"

"Telah lama aku melupakan rasanya di butuhkan. Terlalu lama hingga hatiku dingin dan membeku"
  
"Pernah mencintainya, lalu dilupakan begitu saja, rasanya amat menyakitkan"

"Hubungan yang tidak sederhana itu terlalu indah untuk dilupakan. Namun mengingatnya malah membuat luka lama kembali membuatmu sakit"

"Pernahkah kau berpikir bahwa suatu saat nanti mereka akan memiliki dunia yang sama dengan kita? Saat rasa sakit akan sulit terlupa. Saat warna-warna abstrak mulai membentuk dunia dewasa. Aku ingin menjadi salah satu warna polos yang pernah menghias kehidupan mereka. Anak-anak itu....semuanya istimewa"

"Cinta kita sekali pergi takkan pernah kembali. Hingga kini aku masih diam-diam menunggu. Cinta kita, aku mengerti. Telah menjadi beban bagimu. Mungkin  kelihatannya aku tidak dapat melepaskan, Kehangatan terakhir. Kehangatan terakhir yang kau berikan"

"I finished crying in the instant that you left and I can't remember where or when or how and I banished every memory you and I had ever made"

"Cinta telah berakhir, persahabatan hanya dongeng pengantar mimpi. Mengapa semuanya begitu sakit? Merajam hati hingga tak ada yang tersisa lagi."

"Hitam. Putih. Abu-abu. Semua tidak pernah jelas. Siapa yang salah. Siapa yang benar. Dunia yang aneh. Takdir yang sama-sama ganjil. Siapa yang akan menjawab semua kegundahan ini?"

"Ini bukan masalah pertama atau kedua. Ini adalah masalah keberanian untuk mempertahankan"

Tidak ada komentar: